Vermikompos Berbahan Dasar Kotoran Cacing
Persiapan bahan dan alat, yaitu:
a. Cacing tanah (Lumbricus rubellus)
Cacing tanah memiliki banyak kelebihan dan kegunaan. Hal tersebut menjadikan cacing tanah berpotensi potensi besar untukdikembangkan. Proses budidaya cacing tanah tidak memerlukan lahan yang luas,manajemen pemeliharaan yang relatif mudah,serta siklus produksi yang singkat membuat cacing tanah dapat berkembang dengan pesat. Cacing tanah memiliki banyak manfaat bagi sektor lain, diantaranya di bidang pertanian, peternakan, perikanan, serta farmasi. Jenis cacing tanah yang dapat dikembangkan adalah Lumbricus rubellus dan cacing kalung.
Cacing tanah memiliki kandungan protein yang tinggi (72% - 84,5%). Protein cacing tanah mengandung 20 asam amino,yang terdiri atas lisin, triptopan, histidin, fenilalanin, isoleusin, leusin, theorin, methionin, arginine, glisin, alanin, sistin, tirosin, asam aspartik, asam glutamat, prolin, hidroksiprolin, serin, dan sitruline (Rukmana, 2000). Kandungan protein yang tinggi dari biomassa cacing tanah berpotensi dikembangkan sebagai bahan pakan ternak sumber protein agar pertumbuhan ternak semakin cepat. Cacing yang biasa digunakan sebagai pakan ternak adalah cacing kalung.
Penggunaan cacing tanah dalam perombakan kotoran ternak dan sisa-sisa sayuran menjadi salah satu upaya menambah nilai guna limbah yang ada. Cacing tanah membutuhkan limbah berupa kotoran ternak maupun sisa sayuran sebagai media berkembangbiak dan juga sebagai pakan. Sisa kotoran ternak yang dimakan akan menjadi pupuk bekas cacing atau biasa disebut vermikompos. Vermikompos memiliki keunggulan, yaitu adanya mikroba yang terbawa dari organ pencernaan cacing yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
b. Kompos Pupuk kandang (pakan untuk cacing)
Pupuk kandang (pukan) didefinisikan sebagai semua produk buangan dari binatang peliharaan yang dapat digunakan untuk menambah hara, memperbaiki sifat fisik, dan biologi tanah. Apabila dalam memelihara ternak tersebut diberi alas seperti sekam pada ayam, jerami pada sapi, kerbau dan kuda, maka alas tersebut akan dicampur menjadi satu kesatuan dan disebut sebagai pukan pula.
Di antara jenis pukan, pukan sapilah yang mempunyai kadar serat yang tinggi seperti selulosa, hal ini terbukti dari hasil pengukuran parameter C/N rasio yang cukup tinggi >40. Untuk memaksimalkan penggunaan pukan sapi harus dilakukan pengomposan agar menjadi kompos pukan sapi dengan rasio C/N di bawah 20.
Pengomposan diartikan sebagai proses dekomposisi secara biologi untuk mencapai bahan organik yang stabil. Proses pengomposan menghasilkan panas. Dengan dihasilkannya panas maka akan dihasilkan produk kompos akhir yang stabil, bebas dari patogen dan biji-biji gulma, berkurangnya bau, dan lebih mudah diaplikasikan. Dengan adanya pengomposan meningkatkan kadar hara N, P, K, Ca, dan Mg; menurunkan rasio C/N dan kadar air per unit yang sama.
c. Wadah
Wadah yang dipakai adalah kotak yang terbuat dari kayu yang akan digunakan sebagai tempat peternakan cacing.
d. Ayakan
Ayakan atau saringan adalah alat yang digunakan untuk memisahkan bagian yang tidak diinginkan berdasarkan ukurannya, dari dalam bahan curah dan bubuk yang memiliki ukuran partikel kecil dan bahan adonan atau campuran dari cairannya. Ayakan digunakan padasaat pemanenan.
Penimbangan
Penimbangan dilakukan dengan cara menimbang cacing tanah sebanyak 1 kg dan kompos sebanyak 1 kg, atau dengan tingkat perbandingan 1:1.
Pencampuran Apabila bahan-bahan sudah selesai ditimbang, kemudian cacing tanah dan kompos dimasukkan ke dalam kotak kayu. Cacing tanah dimasukkan terlebih dahulu dengan posisi ditengah kotak, setelah itu kompos dimasukkan dipinggirkiri dan kanan cacing. Hal tersebut bertujuan untuk mempercepat daya adaptasi cacing dan mencegah cacing stress yang disebabkan perpindahan ke lingkungan baru.
Penyimpanan Setelah selesai proses pencampuran, simpan kotak kayu yang berisi cacing tanah dan kompos ditempat kering selama 14 hari. Penyimpanan cacing dilakukan di dalam kumbung.
Pemeliharaan Selama proses pembuatan (14 hari), perlu dilakukan pemeliharaan agar pupuk kascing yang dihasilkan optimal. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan yaitu: a. Penyiraman, bertujuan untuk menjaga media agar tetap lembab dan tidak kekeringan sehingga cacing dapat bertahan hidup dengan air yang cukup. Penyiraman dilakukan pada pagi hari dengan cara menyiram media sampai pada kapasitas lapang. b. Pemberian pakan, dilakukan dengan memberi pakan setiap 1 hari sekali sebanyak berat cacing yang dimasukkan (bila cacing dimasukkan 1 kg maka pakan yang diberikan juga 1 kg).
Pemanenan Pemanenan dapat dilakukan setelah 14 hari apabila bahan organik (pakan) yang diberikan telah habis dimakan oleh cacing dan telah menampakkan butiran kotoran cacing. Dua hari sebelum dilakukan pemanenan, cacing sudah tidak perlu disiram untuk menghindari panen dalam keadaan basah sehingga memudahkan proses pengayakan. Pemanenan dilakukan dengan cara menumpukkan bahan (kascing) menjadi gundukan agar cacing turun ke bawah gundukan menghindari sinar matahari. Kascing dikering anginkan lalu diayak. Cacing yang telah dipanen dapat digunakan lagi untuk proses pembuatan kascing selanjutnya.
Pengayakan Pengayakan bertujuan untuk mendapatkan kascing yang halus dan dapat mengambil cacing dan telur. Pengayakan dilakukan dengan menggunakan alat ayakan sehingga bagian yang halus dan kasar dapat terpisah. B. Masalah dan Kendala Terdapat beberapa permasalahan yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas fisik vermikompos yang dihasilkan diantaranya: 1. Daya adaptasi cacing relatif lama disebabkan beberapa hal berikut: a. Pengaruh pH Cacing tanah memiliki system pencernaan yang kurang sempurna, karena sedikitnya enzim pencernaan yang dimilikinya. Oleh karena itu cacing tanah memerlukan bantuan bakteri untuk merubah/memecahkan makanan. Keadaan makanan atau lingkungan yang terlalu basa dapat menyebabkan cacing tanah sulit beradaptasi dan juga dapat mengakibatkan cacing tanah kelihatan pucat dan kemudian mati. Untuk pertumbuhan yang baik dan optimal diperlukan pH antara 6 sampai 7. b. Pengaruh Kelembaban Sebanyak 85% dari berat tubuh cacing tanah merupakan air, sehingga sangatlah penting untuk menjaga media pemeliharaan agar tetap lembab (kelembaban optimum berkisar antara 15-30%). Tubuh cacing mempunyai mekanisme untuk menjaga keseimbangan air dengan mempertahankan kelembaban dipermukaan tubuh dan mencegah kehilangan air yang berlebihan. Cacing yang dehidrasi akan kehilangan sebagian besar berat tubuhnya dan tetap hidup walaupun kehilangan 70-75% kandungan air tubuh. Kekeringan yang berkepanjangan memaksa cacing tanah untuk bermigrasi ke lingkungan yang lebih cocok. c. Pengaruh Suhu Suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan memengaruhi proses-proses fisiologis seperti pernafasan, pertumbuhan, perkembangbiakan dan metabolisme. Suhu yang baik berkisar antara 150C-250C. suhu yang lebih tinggi dari 250C masih baik asalkan ada naungan yang cukup dan kelembaban yang optimal. 2. Hama yang menjadi kompetitor, yaitu semut. Semut termasuk ke dalam kelompok hama kompetitor karena semut ikut memakan makanan cacing. Untuk penganggulanganya dapat dilakukan dengan cara menyiram media dengan air dan membersihkan media dari bangkai cacing mati agar tidak mengundang semut. Pemanenan sebaiknya dilakukan dalam keadaan kering. Dua hari sebelum dilakukan pemanenan sebaiknya tidak dilakukan penyiraman. Hal tersebut ditujukan agar saat pengayakan kondisi kascing tidak basah, yang dapat menyebabkan menggumpal dan menempelnya kascing pada ayakan. Pada pemanenan pertama yang dilakukan oleh kelas C dilakukan saat kondisi kascing basah, sehingga menyebabkan kulitas kascing kurang baik dan banyak yang menggumpal.
Pencampuran Apabila bahan-bahan sudah selesai ditimbang, kemudian cacing tanah dan kompos dimasukkan ke dalam kotak kayu. Cacing tanah dimasukkan terlebih dahulu dengan posisi ditengah kotak, setelah itu kompos dimasukkan dipinggirkiri dan kanan cacing. Hal tersebut bertujuan untuk mempercepat daya adaptasi cacing dan mencegah cacing stress yang disebabkan perpindahan ke lingkungan baru.
Penyimpanan Setelah selesai proses pencampuran, simpan kotak kayu yang berisi cacing tanah dan kompos ditempat kering selama 14 hari. Penyimpanan cacing dilakukan di dalam kumbung.
Pemeliharaan Selama proses pembuatan (14 hari), perlu dilakukan pemeliharaan agar pupuk kascing yang dihasilkan optimal. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan yaitu: a. Penyiraman, bertujuan untuk menjaga media agar tetap lembab dan tidak kekeringan sehingga cacing dapat bertahan hidup dengan air yang cukup. Penyiraman dilakukan pada pagi hari dengan cara menyiram media sampai pada kapasitas lapang. b. Pemberian pakan, dilakukan dengan memberi pakan setiap 1 hari sekali sebanyak berat cacing yang dimasukkan (bila cacing dimasukkan 1 kg maka pakan yang diberikan juga 1 kg).
Pemanenan Pemanenan dapat dilakukan setelah 14 hari apabila bahan organik (pakan) yang diberikan telah habis dimakan oleh cacing dan telah menampakkan butiran kotoran cacing. Dua hari sebelum dilakukan pemanenan, cacing sudah tidak perlu disiram untuk menghindari panen dalam keadaan basah sehingga memudahkan proses pengayakan. Pemanenan dilakukan dengan cara menumpukkan bahan (kascing) menjadi gundukan agar cacing turun ke bawah gundukan menghindari sinar matahari. Kascing dikering anginkan lalu diayak. Cacing yang telah dipanen dapat digunakan lagi untuk proses pembuatan kascing selanjutnya.
Pengayakan Pengayakan bertujuan untuk mendapatkan kascing yang halus dan dapat mengambil cacing dan telur. Pengayakan dilakukan dengan menggunakan alat ayakan sehingga bagian yang halus dan kasar dapat terpisah. B. Masalah dan Kendala Terdapat beberapa permasalahan yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas fisik vermikompos yang dihasilkan diantaranya: 1. Daya adaptasi cacing relatif lama disebabkan beberapa hal berikut: a. Pengaruh pH Cacing tanah memiliki system pencernaan yang kurang sempurna, karena sedikitnya enzim pencernaan yang dimilikinya. Oleh karena itu cacing tanah memerlukan bantuan bakteri untuk merubah/memecahkan makanan. Keadaan makanan atau lingkungan yang terlalu basa dapat menyebabkan cacing tanah sulit beradaptasi dan juga dapat mengakibatkan cacing tanah kelihatan pucat dan kemudian mati. Untuk pertumbuhan yang baik dan optimal diperlukan pH antara 6 sampai 7. b. Pengaruh Kelembaban Sebanyak 85% dari berat tubuh cacing tanah merupakan air, sehingga sangatlah penting untuk menjaga media pemeliharaan agar tetap lembab (kelembaban optimum berkisar antara 15-30%). Tubuh cacing mempunyai mekanisme untuk menjaga keseimbangan air dengan mempertahankan kelembaban dipermukaan tubuh dan mencegah kehilangan air yang berlebihan. Cacing yang dehidrasi akan kehilangan sebagian besar berat tubuhnya dan tetap hidup walaupun kehilangan 70-75% kandungan air tubuh. Kekeringan yang berkepanjangan memaksa cacing tanah untuk bermigrasi ke lingkungan yang lebih cocok. c. Pengaruh Suhu Suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan memengaruhi proses-proses fisiologis seperti pernafasan, pertumbuhan, perkembangbiakan dan metabolisme. Suhu yang baik berkisar antara 150C-250C. suhu yang lebih tinggi dari 250C masih baik asalkan ada naungan yang cukup dan kelembaban yang optimal. 2. Hama yang menjadi kompetitor, yaitu semut. Semut termasuk ke dalam kelompok hama kompetitor karena semut ikut memakan makanan cacing. Untuk penganggulanganya dapat dilakukan dengan cara menyiram media dengan air dan membersihkan media dari bangkai cacing mati agar tidak mengundang semut. Pemanenan sebaiknya dilakukan dalam keadaan kering. Dua hari sebelum dilakukan pemanenan sebaiknya tidak dilakukan penyiraman. Hal tersebut ditujukan agar saat pengayakan kondisi kascing tidak basah, yang dapat menyebabkan menggumpal dan menempelnya kascing pada ayakan. Pada pemanenan pertama yang dilakukan oleh kelas C dilakukan saat kondisi kascing basah, sehingga menyebabkan kulitas kascing kurang baik dan banyak yang menggumpal.
